Perjalanan Menantang dari Labuan Bajo ke Wae Rebo

Perjalanan Menantang dari Labuan Bajo ke Wae Rebo

Tulisan ini tentang perjalanan saya dari Labuan Bajo ke Wae Rebo.

Sebuah kesempatan langka bagi saya untuk bisa terlibat langsung di event ASEAN Summit 2023 di Labuan Bajo. Di akhir hajatan ASEAN Summit 2023 di Labuan Bajo, saya putuskan untuk pergi ke Wae Rebo.

Nyaris saja saya batalkan perjalanan solo saya ini karena motor yang akan saya gunakan tidak dalam keadaan sehat. Saya putuskan untuk bawa ke bengkel saja untuk di servis. Dan Puji Tuhan, motor kembali sehat dan siap untuk diajak jalan jauh.

Tanggal 14 Mei 2023, hari dimana saya pergi ke Wae Rebo.

Perjalanan ke Waerebo

Petualangan saya dimulai di Labuan Bajo pada pukul 8.30 pagi. Jalan Trans Flores masih belum terlalu ramai di hari Minggu itu. Dengan tidak membuang waktu lagi saya pacu sepeda motor trail Kawasasi KLX 230cc hingga Lembor.

Seperti pada umumnnya jalanan di Flores, jalan aspal yang berkelok kelor adalah tantangan tersendiri bagi pengendara motor trail.

Masih sama ketika terakhir saya melakukan solo ride dari Bali ke Kupang tahun 2017 dengan motor Yamaha Virago 1100cc, aroma kopi yang saya cium ketika melewati rumah warga selama perjalanan seperti ucapan selamat jalan hangat dari setiap warga yang membuat saya senyum senyum sendiri.

Buat kamu yang berencana melakukan perjalanan dengan menggunakan roda dua, kamu perlu pastikan ketika berangkat dari Labuan Bajo tanki motor kamu dalam keadaan penuh. Jika pun harus mengisi Kembali dalam perjalanan, pilihan pom bensin masih sangatlah minim. Bensin eceran adalah harapan satu satunya. #supportyourlocalbenzhineceran

Tiba di Lembor

Tidak terasa 1 jam 30 menit saya tiba di Lembor. Saya berhenti di sebuan minimarket franchise untuk membeli air mineral utnuk re-fill botol minum saya, dan beberapa snack dan mantel hujan. Menurut info, jalur tracking ke Wae Rebo kadang sering hujan. Sehingga satu orang butuh setidaknya 2 mantel hujan- 1 buat diri kita dan 1 buat tas kita. Ini jika backpack kamu tidak memiliki cover bag.

Tiba di Lembor

Tepat pukul 10.30 saya lanjutkan perjalanan melewati jalur pantai selatan, Desa Nanga Lili Kecamatan Lembor Selatan, Kabupaten Manggarai Barat ke Kampung Denge. Saya memilih jalur ini karena selain cocok dengan jenis motor yang saya pakai, tapi juga jalur ini adalah jalur tecepat.

Sedangkan jalur satunya lagi adalah jalur masuk melalui Ruteng. Menurut info Jika lewat jalur masuk dari Ruteng ke Kampung Denge estimasi waktu perjalanan 3-4 jam. Sedangkan dari Lembor ke Denge estimasi waktu perjalanan 2-3 jam

Perjalanan Menantang dari Labuan Bajo ke Wae Rebo

Jalanan berbatu melewati Pantai Selatan membuat perjalanan ini semakin menantang!

Angin yang berhembus dari Samudra Pasifik, melewati jalanan yang minim aspal, debu dan bebatuan, lengkap sudah perjalanan ini. Kadang sebelah kiri bukit dengan pepohonan dan sebelah kanan deburan angin laut. Sebuah pemandangan yang luar biasa. Dari kejauhan tampak Pulau Mules atau Nusa Molas. Sebuah pulau yang terletak di perairan Selatan Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Manggarai.

Kadang berkendara di antar pepohonan, sambal melewati beberapa kambing dan sapi yang sedang merumput atau berkubang di genangan air.

Jika melewati gerombolan bocah bocah, mereka senang sekali melambaikan tangan dan berharap saya menyambut dengan sebuah toss. Jika ada jalan bercabang, dan ragu, bertanya kepada penduduk setempat akan dilayani dengan baik dan ramah.

Motor yang saya tunggangi benar benar tangguh untuk kondisi jalan seperti ini, dan saya sarankan untuk gunakan jenis motor seperti ini.

Memasuki area Kampung Denge cuaca mulai terasa dingin. Tepat pukul 12.47 saya tiba di parkiran motor, Pos akhir dari jalur bermotor.

Beberapa tamu yang menggunakan kendaraan roda empat, hanya bisa sampai di Kampung Denge, dan bisa melanjutkan dengan ojek karena kondisi jalan yang sempit. Biaya ojek berkisar 50 ribu sekali jalan sekitar 10-15 menit.

Satu malam sebelum saya berangkat ke Wae Rebo, saya diberikan kontak seorang local guide bernama Fredy, oleh teman di Labuan Bajo.
Menghubungi Fredy bukanlah hal yang mudah, karena sinyal telepon selular yang tidak lancar jaya di kampung Denge ini.
Setelah bertemu Fredy, beliau sarankan agar saya jalan sendirian, dan akhirnya saya putuskan untuk tidak menggunakan jasanya. Agak ngeri-ngeri sedap juga, namun saya beranikan diri untuk tracking sendirian ke Wae Rebo.

Jika menggunakan jasa guide untuk tracking, biayanya 250rb. Dengan harga ini, guide akan temani pergi dan pulang ke/dari Wae Rebo, sekaligus menjadi porter untuk barang bawaan para tamu.
Saran saya jangan membawa barang terlalu banyak dan berat untuk menuju Wae Rebo.
Setelah parkir motor, saya lalu bertemu dengan AME NIKO. Seorang tua yang sudah lebih dari 2 dekade menjaga pos ini. Kepada beliau saya menitipkan helm dengan membayar 15ribu rupiah.
Ame Niko juka menawarkan tongkat dari bahan rotan untuk tracking dengan membayar 20rb rupiah.

Tracking dimulai! Pukul 13.00. Sendiri tanpa guide/porter dan tanpa teman tracking.

Bagi saya, tracking menuju Wae Rebo saya bagi dalam 3 kategoti tracks:

  1. Track awal sejak dimulai adalah Hell Track: jalan setapak licin dan menanjak curam
  2. Track setelahnya adalah Hard Track: jalan tanah bebatuan dan menanjak landai
  3. Track terakhir adalah Star Track: jalan tanah kurang bebatuan dan menurun

Hell track adalah ujian terberat.

Yang diuji adalah: keinginan vs kenyataan. Jalan setapak yang lumayan dan cenderung curam serta agak licin ini benar benar cobaan yang bukan main main.

Saya hampir saja menyerah. Namun niat saya lebih besar dan semakin berusaha. Dalam hati saya terus katakan, “ayo coba lagi, ayo coba lagi”. Ada rasa menyesal. Menyesal mengapa saya putuskan utk tracking sendirian. Namanyanya juga menyesal yah, selalu datang kemudian. Kalo datang diawal kan namanya pendaftaran..hehe

Belum selesai saya selesaikan jalan setapak ini, dan hampir mulai menyerah lagi, muncul seorang laki laki muda, jalan mendekati saya dengan bawaan barang yang tidak sedikit. Lelaki ini perkenalkan diri sebagai Leo, asli dari Sumatera Selatan, Palembang. “Wah, punya teman jalan nih”, syukur saya dalam hati.

Ranselnya kelihatan padat dan berat. Dan dia membawa jinjingan seberat 4-5 Kg yang isinya adalah PEMPEK PALEMBANG. Gila, pikir saya! “Bang, saya sering jalan jalan. Hanya 2 kota di Indonesia ini yang belum saya datangi. Dan setiap saya jalan-jalan seperti ini, saya selalu membawa makanan traditional saya ini” , ucap dia ketika kami berhenti break yang ke 3.”Hitung hitung promosi bang”, lanjut dia.

Umurnya 27 Tahun, pikirannya sangat luar biasa menurut saya. Padahal jika mau dipikir, tidak sedikit orang Palembang atau bukan Palembang yang membuka usaha kuliner pempek Palembang ini. Selain karena orang tua nya memiliki dan ingin mewariskan usaha kuliner ini, laki laki ini sangat berpikir maju. Istilah sekarang, TERNIAT!

Dampaknya adalah, banyak teman dia yang bertemu di tempat tujuan wisata seperti saya yang sering order pempek nya. Saya lantas penasaran dengan rasa makanan yang dibawanya ini, satu karena belum pernah cicipi pempeng asli dari Palembang, dua rasa penasaran ini pelan-pelan alihkan rasa Lelah tracking. Gas terussss…..

Memasuki Hard Track napas masih lumayan satu satu namun jalan sudah lebih melandai dan kurang berbatu. Saya dan teman cukup beruntung karena tidak turun hujan. Ada beberapa titik yang jika hujan bisa saja kami tidak bisa dilewati.

Sepanjang jalan ini kabut semakin tebal. Aroma tanah dan daun daun semakin terasa. Napas satu satu namun sehat pikir saya, yang sangat jarang berolahrahga ini. Tidak banyak bunyi yang kami dengar, hanya bunyi daun dan ranting yang jatuh. Sesekali kami dengar bunyi dari semak semak. Kami sempat berpikir ular, naum ternyata tikus. Tidak terdengar bunyi burung sama sekali. Sampai di track ini, waktu sudah menunjukkan pukul 13.58. Nyaris 1 jam perjalanan. Boleh dibilang baru setengah perjalanan.

Harus saya akui bahwa Langkah kami sangat pelan. Sebenarnya Langkah saya yang sangat pelan, namun saya bersyukur teman perjalanan saya bersedia mengimbangi langka pelan saya. Kami berhenti sudah lebih dari 10 kali sejauh ini. Pelan namun tetap fokus jalan ke tujuan.

Sambil berjalan saya sempat berpikir, perjalanan ini seperti halnya berbisnis. Meskipun sudah ada niat, jika tidak focus, konsisten, dan persisten, tida ada gunanya. Perjalanan sejauh ini sudah mengajarkan saya banyak hal yang bisa saya relate-kan dengan bisnis, dengan usaha saya dalam membangun dan mempertahankan bisnis saya.

Ketika kami break untuk kesekian kalinya kami sempat berbicara tentang hubungan orang tua dan anak. Teman jalan saya berasal dari keluarga yang berwirausaha kuliner dan keluarga yang boleh dibilang sangat care (cenderung over) kepada anak-anaknya. Sebagai anak, beliau merasa orang tua nya tidak memberikan keleluasaan dan banyak hal termasuk memilih sekolah dan bagaimana mengembangkan bisnis kuliner keluarganya. Saya paham arah pembicaraannya sebagai seorang anak, namun saya sebagai orang tua juga coba berikan pandangan dari kacamata orang tua. Ketika kami bicara tentang hal ini, break kami cukup lama sampai tidak perhatikan waktu.

Selamat datang di Wae Rebo

Akhirnya kami telusuri jalan setapak yang minim bebatuan dan mulai menurun. Ini dia Star Track!

Napas kami sudah lebih ringan, langkah sudah lebih enteng. Ransel sudah semakin kuat saya pikul karena sudah terbersit dihati bahwa tujuan sudah semakin dekat. Tidak terasa kami sudah lewati 1 pos pandang, 1 tugu kecil bertuliskan Selamat Jalan, dan 1 pos yang paling besar kami temui. Di pos itu tertulis dengan spidol warna hitam, “jalan terus, ada tawon besar. Hati-hati!”

Pasti anda bingung dengan tulisan pada tugu itu kan? Setelah kami perhatikan, menurut kami ketika dipasang tugunya terbalik. Posisi datang ke Wae Rebo menjadi Selamat Jalan, sebalikanya posisi Kembali dari Wae Rebo menjadi Selamat Datang.

Tawa kecil kami semakin menjauhkan dari Lelahnya berjalan. Waktu menunjukkan pukul 15.20.

Dan tepat pukul 15.53 kami tiba di gerbang masuk Wae Rebo. Nyaris 3 jam perjalanan kami. Nampak Kabut tebal menyelimuti kamung adat yang berusia lebih dari 1000 tahun, di ketinggian 1200 mdpl.

Di satu sisi tampak anak anak sedang bermain bola, dan di sisi lain beberapa tamu sedang berdiri berbicara dengan penduduk Wae Rebo

Baru kemudian kami diberitahu untuk tidak beraktfitas lain dulu sebelum masuk ke rumah adat utama untuk prosesi penyambutan secara adat. Asumsi saya, termasuk mengambil foto ini.

Kami disambut di Rumah Adat Utama. Ukurannya paling besar dan posisinya diapit oleh 3 rumah sedang di kiri dan kanannya.

Kondisi penerangan dalam rumah adat tempat kami diterima secara adat saat itu tidak begitu terang. Saya coba membuat foto namun tidak jelas hasilnya. Saya tidak akan bercerita banyak tentang nama rumah adat, sejarahnya, dan bagaimana penduduknya. Saya yakin anda bisa googling dan menemukan info yang lebih akurat.

Meskipun ini adalah kampung adat, namun karena seringnya tamu berkunjung dan mendapat saran dari para tamu, kami dilayani dengan sangat baik.

Dan akhirnya rasa lelah, rasa penasaran, dan semua rasa yang ada sebelum sampai ke Wae Rebo dibayar lunas dengan melihat dan mengalami langsung suasana Wae Rebo.

Dan kamipun Makan Pempek Palembang di Wae Rebo di malam hari Bersama tamu lainnya… Total tamu yang menginap malam itu ada 10 orang. 8 orang WNA dan 2 WNI.

Sampai di Wae Rebo adalah hasil dari segala proses perjalanan. Boleh dibilang, jalan menujun Wae Rebo adalah proses yang tidak mengkhianati hasil dengan tiba di Wae Rebo.

Tulisan perjalanan ini saya persembahkan untuk anak saya Mario Pierre Pascal Ralph yang berusia 22 tahun di tanggal 17 Mei 2023.

Selamat Tambah Muda Anak Lelaki-ku.

Labuan Bajo,
16 Mei 2023

Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman pribadi saya :

  • Sebagai seorang pria berumur 44 tahun
  • Dengan latar belakang tidak pernah berolahraga fisik secara regular (bahkan jarang sekali)
  • Utfit yang saya gunakan (celana Panjang jeans), sepatu merk airwalk utk ber-skate-board dan
  • Dan kondisi fisik kecapaian berkendara motor 100an Km (3,5 jam).
Share your love
Avatar photo
Paparaff

I’m Paparaff, a visual designer based in Kupang.

Articles: 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sombra Coffee