Halo sahabat flobamora,
Salah satu daerah di Nusa Tenggara Timur yang mewarisi tradisi taji ayam adalah Sabu. Ya, ama-ama Sabu memang paling kompeten dalam urusan yang satu ini. Perjalanan kali ini adalah menuju Sabu. Pulau kecil yang memagari batas selatan negeri ini. Tentunya bukan untuk bertaji ayam. Ada hal lain yang lebih menarik dari itu.
Malam itu, sabtu 25 April 2022 saya berlayar menuju Sabu, menumpang kapal Cantika Lestari 10. Musabab esoknya ada acara Hole Mehara di Sabu Mesara, banyak orang Sabu yang memilih pulang kampung. Merayakan rindu dan cinta bersama leluhur dan kerabat di acara sakral ini.
Setelah sekian lama tidak berlayar, malam itu, akhirnya saya kembali mencium aroma asin laut Sawu. Dari pelabuhan Tenau, Kupang kami berlayar. Membelah sunyinya malam. Dan akupun terlelap di atas lautan.
Gerak semesta selalu beraturan. Pagi datang tepat pada waktunya, seiring mentari yang mulai mekar di ufuk Timur. Kokokkan ayam penumpang kapal membangunkanku dari lelapnya tidur. Merayakan pagi dengan segelas kopi di buritan Kapal.
Pagi itu, satu jam sebelum sang kapten melabuhkan kapal di bibir dermaga Seba, saya berjumpa dengan bro Edri Sengaji, founder eastnusatenggara.id. di lorong belakang Dek I, kami bercerita banyak soal pariwisata, dunia digital dan kontribusi anak NTT dalam hal promosi pariwisata. Esatnusatenggara sendiri adalah sebuah platform digital yang konsen pada pengembangan dan promosi pariwisata NTT. Hasil karya anak NTT sendiri.
Hari masih pagi saat kami tiba di Seba. Seperti di kebanyakan pelabuhan di Indonesia, porter dan pedagang asongan berdesakkan memadati dermaga dan lorong kapal, menawarkan jasa dan dagangannya. Seturun dari kapal, saya bergegas mencari penginapan. Di pelabuhan dan juga seluruh tempat di pulau ini tidak ada ojek ataupun bemo. Untungnya ada rekan yang bersedia mengantar ke penginapan.
Selepas sarapan, saya diantar Lonnie Bunga, mantan wartawati Cakrawala NTT yang kini mengabdi sebagai ASN di Sabu Raijua, mengelilingi Seba, pusat kota Sabu dan Menia, pusat perkantoran Pemda Sabu Raijua. Soal panas jangan ditanya. Sabu rajanya. Rasa-rasanya ada tujuh matahari di pulau kecil ini.
Keesokan harinya, saya ditemani Pak Ben, Guru SMAN I Hawu Mehara menyambangi Lie Madira. Gua alam yang terletak di Desa Deieko, Kecamatan Hawu Mehara. Jujur harus diakui bahwa dibutuhkan nyali yang cukup untuk menyusuri lorong gua yang gelap dan menyeramkan ini.
Lorong gua ini cuku panjang. Butuh stamina ekstra untuk bertahan sedikit lebih lama di dalam, musabab suplay oksigen yang hanya searah dari pintu utama gua. Menariknya, air dalam gua ini sangat jernih, bisa langsung diminum atau anda bisa berenang sepuasnya di sini.
Dari Lie Madira, kami beranjak menuju Kelabba Madja. Destinasi wisata alam paling eksotis yang ada di pulau Sabu. Di tahun 2018, Kelabba Madja meraih juara pertama API Awards kategori surga tersembunyi terpopuler.
Alam Kelabba Madja tersusun dari rangkaian mosaik nan indah. Memendarkan cahaya aneka warna dari balik gundukan bukit dan tiang batu. Berada di Kelabba Madja sepertinya kita menyaksikan pelangi dari jarak terdekat. Aroma bukit dan zat asam panas tanah bercampur asinnya lautan Hindia menyatu dibukit Kelabba Madja.
Buat kamu yang suka travelling dan butuh healing, Kelabba Madja adalah pilihan prioritas saat anda berkunjung ke pulau Sabu. Alam Sabu memang sungguh memesona. Indah tak terkata. Menenangkan kalbu. Keindahan alam Sabu tentu bukan semata Kelaba Madja. Masih banyak destinasi wisata alam maupun budaya yang tidak kalah menariknya.
Salah satu destinasi wisata yang berhasil dikunjungi dalam perjalan kali ini adalah bukit Salju. Kendati panasnya menyengat kulit, pulau sekecil ini ada saljunya ternyata. Saljunya membukit dan setia menatap ganasnya ombak Samudra Hindia. Bukit batu kapur berwarna putih ini menyerupai salju, makanya diberi nama bukit salju.
Alam Sabu memang sungguh eksotik karena diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum.




