Potret Orang Sabu Asli yang mengenakan Pakaian Adat di Kampung Namata

Riwayat Namata, Kampung Keramat di Pulau Sabu

Sahabat Flobamora,

Pernahkah anda mendengar lagu NTT Bercerita? Dalam lagu tersebut disentil sedikit tentang orang-orang Sabu demikian “Ina ama muka gaga-gaga,….. taji ayam su jadi tradisi adat sabu……” Tentang Sabu, banyak dari antara kita yang mengenalnya sebatas daerah penghasil gula lempeng dan kepiawaian mereka dalam menyadap nira lontar.

Sama seperti daerah-daerah lainnya di NTT, Sabu mempunyai kisah mistik dan kekayaan tradisinya sendiri. Berikut sekilas mengenai kampung adat Namata. Kampung megalitik yang kaya akan tradisi dan cerita mistik.

Namata merupakan sebuah kampung adat yang terletak di Desa Raeloro, Kecamatan Sabu Barat, Sabu Raijua. Selain sebagai nama kampung adat, Namata adalah juga nama suku di wilayah adat Habba. Menurut cerita, kampung adat Namata didirikan oleh Robo Aba, seorang tokoh terkenal dari Sabu Raijua. Beliau merupakan seorang pemimpin besar di wilayah adat Habba.

Robo Aba sendiri memiliki empat orang anak yakni Tunu Robo, Pilih Robo, Hupu Robo dan Dami Robo.  Menurut keyakinan warga setempat, keempat anak Robo Aba inilah yang kemudian mewariskan keturunan  pada keempat suku besar di Sabu Barat. Tunu Robo menurunkan udu (suku) Namata, Pilih Robo menurunkan udu Nahoro, Hupu Robo menurunkan udu Nahupo dan Dami Robo menurunkan udu Nataga.

Jauh sebelum mendiami Namata, Robo Aba tinggal di sebuah kampung bernama Hanga Rae Robo. Sebagai seorang tokoh terkenal, Robo Aba memiliki sejumlah pasukan khusus yang ditugaskan untuk berburu babi hutan (wawi addu) untuk keperluan makanan harian Robo Aba.

 Suatu ketika, Robo Aba menyuruh Tunu Robo anaknya bersama pasukan untuk pergi berburu ke daerah Radja Mara Kanni. Berangkatlah Tunu Robo bersama pasukan untuk berburu wawi addu ke tempat itu sebagaimana diperintahkan ayahnya.

 Di lokasi berburu (Radja Mara Kanni), Tunu Robo dan pasukan menemukan seekor babi hutan yang sedang tidur di bawa pohon Duri. Tanpa menunggu lama, mereka berusaha membunuh babi tersebut dengan tombak. Tombakan demi tombakan menghujam sekujur tubuh babi tersebut tapi mereka tetap tidak berhasil. Bahkan tombak mereka ada yang patah.

Merasa aneh dengan kejadian tersebut, Tunu Robo bersama pasukan akhirnya kembali dan memberitahukan hal tersebut kepada Robo Aba. Keesokan harinya Robo Aba kembali memerintahkan Tunu Robo bersama pasukan untuk berburu di tempat itu.

Kepada mereka Robo Aba berpesan, apabila mereka berhasil membunuh babi tersebut maka tanah pada bagian kepala, perut dan kaki belakang tempat babi itu tidur harus mereka bawa pulang. Permintaan Robo Aba disanggupi Tunu Robo dan pasukannya. Hari itu juga mereka berhasil membunuh babi itu dan membawa pulang tanah sebagaimana dipesan Robo Aba.

Sesampainya di rumah, Tunu Robo menyerahkan tanah itu kepada ayahnya. Robo Aba kemudian mengamati tekstur tanah itu. Sejauh pengamatannya tanah itu sangat cocok untuk pemukiman. Lokasi berburu, Radja Mara Kanni Bahi ini kemudian dikenal dengan nama era pemata wawi addu (tempat berburu babi hutan). Sejak itulah Radja Mara Kani Bahi diubah namanya menjadi Namata.

Singkat cerita, Robo Aba akhirnya memilih pindah dari kampung Hanga Rae Robo ke daerah Namata. Di tempat baru ini Robo Aba akhirnya mendirikan kampung yang didahului dengan ritual adat haro nadea. Setelah ritual ini dilakukan maka langkah selanjutnya yang dibuat oleh Robo Aba adalah memindahkan rumah adatnya yang bernama Rahi Hawu. Rumah adat Robo Aba yang diberi nama Rahi Hawu sampai saat ini dipercayai sebagai rumah pertama yang didirikan oleh Robo Aba di Seba.

Share your love
Avatar photo
Baldus Sae

Saya adalah jurnalis pariwisata di eastnusatenggara.id
Aktif terlibat dalam riset di bidang kebudayaan dan pariwisata (Yayasan Dian Peradaban Negeri), Jurnalis & Editor di Media Pendidikan Cakrawala NTT.

Articles: 9
Sombra Coffee