Sahabat eastnusatenggara.id
Pernahkah anda berkunjung ke Ende? Ende merupakan salah satu kabupaten di Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Letaknya persis di tengah Pulau Flores. Di Kota kecil inilah Bung Karno diasingkan dan melakukan perenungan tentang Pancasila. Orang-orang Ende pada umumnya adalah warga yang toleran. Perbedaan agama tidak menjadi alasan untuk hidup berdampingan.
Wilayah Ende sendiri terdiri atas dua suku besar, yakni Ende dan Lio. Etnik Ende mendiami wilayah barat. Nangapanda, Pulau Ende, Numba Basa, Maunggoza, Rajawawo, Pemo, Pauwawa, Nangakeo, Nangaba, Barai, Mbomba, Ndao, Woloare, pesisir pantai Ende dan wilayah kota masuk dalam wilayah Ende. Sementara wilayah Lio, terbedakan dari Ende dari segi bahasa dan adat budayanya. Beberapa daerah suku Lio antara lain, Ndona, Moni, Wolotolo, Wolowaru, Ropa, Maurole dan sebagainya.
Dalam Muslim Peoples: A World Ethnographic Survey, Satosi Natagawa (1984) menjelaskan tentang Endenese (Ata Ende – orang Ende) untuk membedakannya dari Lionese (Ata Lio – orang Lio). Endenese disebut juga Ata Ja’o. Orang Ende terbagi dalam dua kelompok kebudayaan yaitu Coastal Endenese dan mountain Endenese.
Coastal Endenese adalah orang-orang yang mendiami wilayah pesisir dan beragama Islam sedangkan mountain Endenese merujuk pada orang-orang di pegunungan yang pada umumnya adalah penganut agama Katolik. Dalam konteks Ende, pembedaan keduanya ini dikenal dengan istilah ndu’a ma’u.
Ata ndu’a ndua: orang gunung turun
Ata ma’u nuka: orang pesisir naik
Pembedaan orang gunung dan pesisir ini sejatinya bukan semata soal letak wilayah tapi lebih pada kepercayaan yang dianut. Islam dan Katolik merupakan dua kelompok besar keagamaan yang mendiami wilayah Ende. Namun demikian, pembedaan antara ata ndu’a dan ata ma’u ini bukanlah penghalang untuk menjalin kekerabatan. Harmoni hiduplah justru yang ditonjolkan di sana.
Hal ini nampak dalam praktek keseharian hidup mereka. Bila ada kerabat ata ma’u hendak mengadakan acara sunatan (seza) atau berangkat umroh (nai haji), para kerabat di pegunungan yang adadlah orang-orang Katolik turut diundang untuk merayakan. Demikian halnya dengan acara tahbisan imam dalam Gereja Katolik atau acara lainnya yang dilaksanakan oleh ata ndu’a, pasti kerabatnya yang islam di pesisir turut dihadirkan (sae)




