Dikenal sebagai salah satu destinasi wisata favorit di wilayah Nusa Tenggara Timur, Kampung Fatumnasi yang berada di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan berada di ketinggian 1.480 meter di atas permukaan laut, tepat di kaki Gunung Mutis, salah satu gunung tertinggi di Pulau Timor yang memiliki ketinggian 2.427 mdpl.
Kampung Fatumnasi dapat dicapai dengan menempuh perjalanan sejauh 35 kilometer dari Kota Soe, ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan. Jarak kota Soe dari Kupang, yang merupakan ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur sejauh 110 kilometer atau dapat ditempuh selama 2-3 jam perjalanan.

Tahun 2021, Kampung Wisata Fatumnasi dinobatkan oleh API Awards sebagai pemenang destinasi wisata dengan kategori sebagai Surga Tersembunyi. Apa saja yang menjadikan Kampung Fatumnasi, yang dihuni oleh orang-orang suku dawan (atoin meto) ini dinilai sebagai Surga Tersembunyi? Berikut ini, lima pesona dari Kampung Wisata Fatumnasi yang menjadikannya pantas menerima predikat sebagai surga tersembunyi.
Bukit Teletubies
Memasuki wilayah Kampung Fatumnasi, pengunjung akan disambut pemandangan rumput hijau yang tumbuh di atas gugusan bukit. Masyarakat dan kebanyakan wisatawan yang berkunjung ke tempat ini menamakannya sebagai bukit teletubies.
Karena merupakan wilayah perbukitan, maka pengunjung pun dapat mencari spot untuk berfoto, seolah-olah berdiri bibir jurang. Pada saat kabut tebal menutupi area ini, foto yang dihasilkan akan menyerupai posisi sedang berdiri di atas negeri awan.

Batu Cermin
Batu cermin adalah sebutan masyarakat setempat pada tumpukan bongkahan batu marmer berukuran besar. Pada saat bebatuan ini terkena sinar matahari, maka akan terpantul cahaya matahari sehingga dikenal sebagai batu cermin.
Kehadiran potongan-potongan batu marmer ini merupakan spot favorit tersendiri bagi para pengejar foto instagramable. Dengan berdiri di atas potongan-potongan batu ini, foto yang dihasilkan akan memiliki nilai eksotis sendiri. Apalagi di sekitar lokasi batu cermin, terdapat hamparan pohon cemara yang menambah indah pesona lokasi batu cermin.
Kampung berselimut kabut
Bagi kebanyakan orang, kabut yang tebal merupakan cuaca ekstrim yang tidak disukai. Namun sebagian orang justru menyukainya karena sensasi berbeda menghirup udara di balik selimut kabut, serta suhu dingin yang dirasakannya.
Masyarakat di Kampung Fatumnasi bahkan bersahabat dengan kabut hampir di sepanjang tahun. Disinyalir, daerah ini merupakan kawasan terbasah di Pulau Timor karena memiliki curah hujan rata-rata 2000-3000 milimeter per tahun. Kondisi ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan daerah lainnya di Pulau Timor yang berkisar 800-1000 mm per tahun. Lamanya bulan basah sendiri dapat mencapai 7 bulan dengan kondisi sering turun hujan mulai dari bulan November sampa Juli. Sedangkan suhu udara di area Kampung Fatumnasi rata-rata berkisar 14-29 derajat celcius dengan suhu terekstrim mencapai 9 derajat celcius.
Karakteristik geologi dan iklim yang dimilikinya membuat Kampung Fatumnasi menjadi salah satu daerah hunian terdingin di Pulau Timor.

Cagar Alam Gunung Mutis dan Hutan Bonsai
Berada di kaki gunung mutis, Kampung Fatumnasi memiliki sebagian wilayahnya telah dijadikan cagar alam sesuai Keputusan Menteri Kehutanan pada tanggal 14 Mei 2014. Oleh karena itu, untuk masuk ke area ini, diharapkan untuk selalu melaporkan diri kepada petugas Dinas Kehutanan yang berada di pos jaga. Namun meskipun dikelolah oleh dinas kehutanan, pengujung belum dikenakan tarif untuk masuk ke area wilayah konservasi yang memiliki luas sampai 12.315,63 ha. Di dalamnya tidak hanya terdapat berbagai vegetasi khas Pulau Timor tapi juga disinyalir terdapat banyak hewan liar termasuk di antaranya rusa.
Keindahan lain dari wilayah cagar alam ini terletak pada hamparan padang yang ditumbuhi pohon bonsai dengan struktur batang yang tumbuh berlekuk. Masyarakat setempat menyebut pohon bonsai dengan sebutan akuna. Sedangkan tumbuhan paku dan lumut yang menempel pada batang-batang pohon bonsai disebut masyarakat setempat dengan nama ampupu konof. Keunikan dari ampupu konof adalah tumbuh menyerupai jenggot panjang orang dewasa.
Hutan pohon bonsai sendiri berada sekitar 1 kilometer dari pintu gerbang masuk Cagar Alam Gunung Mutis dengan kondisi jalan pengarasan atau masih bakal aspal.
Bunga Gladiol.
Padang Fatumnasi, selain indah karena warna hijau rerumputan yang membentang jauh, terdapat pula hamparan bunga gladiol yang tumbuh cantik pada musim hujan yaitu sekitar bulan Desember sampai Maret. Di Eropa, bunga ini tumbuh di bulan Agustus sehingga kerap dijadikan simbol untuk mereka yang lahir di bulan Agustus.
Tumbuh liar di Fatumnasi, konon bunga ini sengaja ditanam pada jaman pemerintahan Hindia Belanda sebagai bunga hias. Bunga gladiol sendiri merupakan bunga yang unik karena hanya bisa tumbuh di dataran tinggi dengan suhu 10 sampai 25 derajat celcius.
Dari akar katanya, gladiol berasal dari bahasa latin yaitu gladiolus yang berarti pedang kecil. Bangsa Yunani Kuno mengenal pula dengan sebutan xiphium yang juga berarti pedang. Hal ini karena bentuknya yang menyerupai pedang.
Konon bunga ini berasal dari Benua Afrika yang dibawa ke Benua Asia sejak 2000 tahun lalu. Sedangkan di Eropa, bunga gladiol baru dibawa ke benua putih itu sekitar pada tahun 1730. Nah sobat pencinta kampung wisata, jadi makin tertarik kan untuk berkunjung langsung ke Fatumnasi? Segera atur schedule anda untuk bisa menikmati langsung sensasi berada di surga tersembunyi di kaki gunung mutis.




