Menjelajahi Keindahan dan Budaya Kampung Adat Ratenggaro di Kabupaten Sumba

Selain keindahan alam, Pulau Sumba memiliki daya tarik Wisata Budaya, salah satunya Kampung Adat. Terdapat banyak Kampung Adat, namun salah satu yang populer dan wajib masuk daftar kunjungan adalah Kampung Adat Ratenggaro. Kampung Adat ini terletak di Kecamatan Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur. Lokasinya berada persis diatas tebing laut dengan hamparan muara dengan laut lepas yang membentang luas, serta banyak megalitik berupa kubur batu.

Uma Mbatangu

Semua bangunan yang ada dalam kampung ini berupa Rumah Adat berbetuk panggung yang terbuat dari bahan alami. Rumah adat “ Uma Mbatangu “ atau rumah berpuncak ini memiliki hubungan kuat dengan kepercayaan masyarakat “ Marapu “ atau roh-roh. Ada sekitar balasan rumah dengan atap menjulang tinggi sekitar 20-35 meter. Struktur bangunan didominasi oleh bambu dan kayu jati. Atap terbuat dari bahan jerami yang tinggi rendahnya didasarkan pada status social mereka. Atap juga sering digunakan untuk menggantung tanduk atau rahang babi sebagai symbol bahwa rumah tersebut telah melaksanakan upacara adat.

Souvenir dan Retribusi

Warga menjual berbagai jenis souvenir berupa kain tenun, kalung, anyaman, dan juga ukiran yang digantung dan ditata didepan rumah. Masyarakat juga menawarkan pengunjung untuk menyewa pakain adat untuk berfoto atau berkeliling kampung dengan menunggang kuda. Sepakati dengan jelas harga dan berapa lama waktu penyewaan agar tidak ada perubahan harga saat melakukan pembayaran, karena sering tidak jujur di awal, dan minta mahal diakhir. Umumnya harga sewa kuda dan pakain adat adalah Rp. 50.000. Ada banyak anak kecil yang cukup agresif untuk meminta sesuatu, jadi bertindaklah dengan bijak.

Ratenggaro dalam bahasa setempat berarti Kuburan Orang Garo, dari Kata Rate atau Kuburan  dan Nggaro yakni Orang Garo sebagai penghuni pertama kampung ini. Dahulu saat masih terjadi perang antar suku, suku yang kalah akan di habisi dan di kubur di tempat ini. Tak heran sebelum memasuki kampung adat terdapat banyak kubur batu berjumlah sekitar 300an yang dipahat dengan tulisan dan gambar kuno. Kampung ini sempat mengalami beberapa kali pemugaran yakni ditahun 1964 karena pertikaian  antar kampung dan tahun 2004 saat pesta adat. Dari kota diperluhkan waktu sekitar 1 jam 20 menit  ke arah selatan. Harga tiket masuk untuk wisatawan Nusantara Rp. 20.000 / orang.

Share your love
Arianto Selly
Arianto Selly

I'm just good at being me. So, take me as i am or leave me.
Love what I do and Do what I Love
Follow MY IG : @Nyonggalang
📍You don't need to be rich to travel
🏚️ Kupang, NTT

Articles: 11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sombra Coffee